Gangguan Berbicara Latah
Gangguan Berbicara ( Latah )
Pengantar ( Latah )
Selama ini gangguan berbicara sudah menjadi perhatian khusus kajian berbagai bidang ilmu, seperti ilmu bahasa, psikologi, maupun kedokteran. Studi yang memfokuskan objek kajiannya terhadap gangguan bahasa dan bicara disebut Speech Language Pathology. Objek kajian gangguan berbicara yang menjadi perhatian studi ini meliputi, gangguan suara, gangguan artikulasi, dan gangguan kefasihan. Pada gangguan kefasihan berbicara (fluency disorder), biasanya penderita mengalami kegagapan, pengulangan kata-kata, latah, atau memperpanjang bunyi silabel, atau kata tertentu. Gangguan kefasihan umum terjadi pada anak-anak, tetapi seiring bertambahnya usia dan keterampilan berbahasa, gangguan kefasihan tersebut bisa hilang. Namun demikian, gangguan tersebut bisa saja bertahan hingga dewasa karena tidak ada penanganan dan terapi yang memadai sehingga dapat menghambat proses interaksi sosialnya.
“Berbicara latah merupakan salah satu gangguan kefasihan berbicara psikogenik. Chaer (2009:152:23) mengatakan bahwa gangguan berbicara psikogenik adalah variasi cara berbicara yang normal, yang merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental”. Modalitas mental yang terungkap oleh cara berbicara sebagian besar ditentukan oleh nada, intonasi, dan intensitas suara, lafal, dan pilihan kata. Ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara. “Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2003), latah berarti:
(1) Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain.
(2) Berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai.
(3) Meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.
(4) Mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, jorok, berkenaan dengan kelamin”.
“Menurut Dardjowidjojo (2005:154), latah adalah suatu tindak kebahasaan saat seseorang, waktu terkejut atau dikejutkan, mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dia katakana”.
“Latah merupakan fenomena psikologis yang muncul karena masyarakat Asia Tenggara, sebagai negara terjajah (colonized) dan terisolasi (isolated) mengalami trauma dan keterkejutan tatkala bertemu dengan dunia Barat yang baru, asing, penuh kebebasan, mengagumkan dan kuat (Kenny 1978; Tseng 2006; Winzeler 1984)”
Dapat disimpulkan bahwa latah merupakan :
Suatu gangguan berbicara, dimana seseorang kesulitan dalam mengungkapkan kata-kata yang ingin dikeluarkan. Kata-kata yang ingin dikeluarkan tersendat atau berhenti di tenggorokan dan sulit untuk mengeliarkan kata-kata.
Latah merupakan suatu perbuatan yang mengikuti apa yang diucapkan oleh seseorang, apa yang dilakukan oleh seseorang. Meniru perbuatan orang lain ini misalnya jika orang lain tersebut meloncat-loncat, maka seseorang yang latah ini juga akan meloncat-loncat menirukan perbuatan orang tersebut. Meniru tuturan atau perkataan orang lain ini misalnya adalah jika seseorang mengatakan kata “ayam”, maka oramg yang latah ini juga akan mengatakan kata “ayam” sampai berulang-ulang kali.
Latah juga diartikan sebagai sakit saraf dimana seseorang yang menderita latah akan menirukan kata-kata atau perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Latah juga diartikan sebagai sebuah penuturan atau ucapan yang menyangkut dengan hal-hal yang negative atau hal-hal yang tidak senonoh, jorok seperti pengucapan alat kelamin.
Latah diartikan sebagai suatu tindakan atau ucapan spontan (tidak dalam keadaan sadar) seseorang ketika seseorang tersebut dikejutkan atau terkejut.
Latah juga diartikan sebagai suatu tindakan yang umumnya dirasakan oleh suatu masyarakat yang pernah terjajah oleh bangsa lain, masyarakat yang terisolasi (terpencil), dan seseorang yang pernah ,memgalami suatu trauma yang diakibatkan oleh suatu kejadian atau peristiwa yang sangat menakutkan bagi orang yang mengalaminya.
Latah disebut dengan Culture Bound Syndrome. Dikatakan demikian karena “penyakit” ini hanya dijumpai pada orang yang tinggal di daerah Asia Tenggara. Belum ada ditemukan orang barat mengalami sebuah gangguan berbicara latah ini.
Latah juga diartikan sebagai suatu tindakan atau ucapan spontan yang dialukan oleh seseorang karena disebabkan oleh suatu bentakan dari orang lain
Pembahasan ( Latah )
Penyebab latah
teori-teori yang mengemukakan penyebab seseorang mengalami gangguan bebicara ( latah ) adalah:
Teori pemberontakan
“Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu”.
Latah terjadi karena adanya rasa berontak dari dalam diri seseorang, dimana ketika seseorang yang menderita gangguan berbicara ( latah ) dikejutkan atau terkejut si penderita tidak dapat menmgontrol ucapan yang ke luar dari dalam dirinya, baik itu kata-kata negative tanpa si penderita merasa bersalah terhadap apa yang telah diucapkannya.
Teori Kecemasan
“Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga”.
Latah terjadi karena adanya rasa cemas yang dialami oleh si penderita latah yang disebabkan oleh adanya tekanan atau bentakan yang si penderita terima dari orang-orang terdekat baik itu dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan sekitarnya. Karena adanya tekanan atau bentakan yang didapat dari orang-orang di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekitarnya ini, maka si penderita melakukan sebuah pemberontakan dengan menjadikan dirinya sendiri latah.
Teori Pengondisian
“Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut “latah gaul”.
Latah ini disebabkan oleh pengeruh orang-orang yang ada di sekitar si penderita latah. Yang awalnya si penderita tidak mengalami latah, karena ada orang-prang yang latah di sekitar penderita, maka si penderita ini menjadi tertular latah. Latah ini juga digunakan oleh si penderita untuk mencari perhatian orang-orang di sekitar si penderita.
Teori Spontan
“Latah ini adalah jenis latah yang paling parah. Saat terkejut, secara spontan dan tanpa sadar, mereka yang latah akan langsung melaksanakan perintah orang lain tanpa bisa dikendalikan”.
Latah semacam ini apabila di penderita latah dikejutkan atau terkejut maka si penderita latah akan secara spontan atau tanpa sadar akan melakukan atau mengucapkan apa yang dilakukan atau diucapkan oleh orang-oramg yang ada disekitarnya. Jika orang-orang yang ada disekitarnya mengucapkan kata-kata yang berbau negative maka si penderita latah akan secara spontan juga mengucapkan hal-hal negative, begitu juga jika orang-orang disekitar si penderita latah melakukan suatu perbuatan tertentu maka si penderita latah juga akan melakukannya.
Macam-macam gangguan latah yang dialami oleh seseorang antara lain :
Coprolalia : Mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, tabu, atau kotor. Biasanya kata-kata yang keluar pada seseorang yang latah berkenaan dengan alat kelamin atau aktivitas seksual. Coprolalia banyak ditemukan pada perempuan yang pernah memimpikan alat kelamin pria dalam jumlah yang banyak atau berukuran sangat besar.
Echolalia : Tingkah laku meniru atau mengulangi perkataan orang lain atau sesuatu yang didengarnya.
Echopraxia : Tingkah laku meniru perbuatan atau gerakan orang lainyang dilihatnya. Dalam hal ini termasuk pula echomimia (meniru mimik orang lain).
Automatic Obidience : Menuruti secara spontan apa yang diinstruksikan atau diperintahkan orang lain untuk dilakukan.
Ciri-Ciri latah menurut Soenjono Dardjowidjojo ( 2003 : 154 ) :
Latah hanya terdapat di Asia Tenggara
Pelakunya hamper semua wanita
Kata-kata yang dikeluarkan umumnya betkaitan dengan seks atau alat kelamin pria atau jantan
Kalau terkejut berupa kata, maka si latah bisa menguang kata itu saja.
Menurut cirri-ciri latah ydi atas dapat disimpulkan bahwa umumnya latah terjadi pada Negara yang pernah dijajah oleh bangsa lain. Latah sebagian besar hanya dialami oleh kaum wanita, tetapi juga ada kaum pria. Kata-kata yang sering diucapkan oleh si penderita latah ini umumnya adalah kata-kata yang berkaitan dengan organ kelamin pria yang disebabkan sebelumnya si penderita mengalami sebuah mimpi seks. Si penderita latah umumnya mengucapkan kata-kata terakhir yang didengarnya sebelum si penderita terkejut.
Solusi Atau Cara Menangani Latah
Ada beberapa tindakan yang dapat diaplikasikan kepada para penderita latah sehingga mereka dapat lepas dari sindrom latah ini, tindakan-tindakan tersebut antara lain adalah :
“Hipnoterapi.
Dalam hipnoterapi kita bisa langsung menjangkau sumber kebiasaan latah, yaitu pikiran bawah sadar. Dengan demikian kita bisa merubah perilaku kebiasaan latah yang tertanam di pikiran bawah sadar. Selain itu, dengan hipnoterapi penderita latah diberi sugesti agar tetap tenang ketika mengalami peristiwa yang mengagetkan.”
“Pendekatan Diri dan Lingkungan.
Calm Pada dasarnya orang yang mudah latah itu mudah sekali panik dan kaget. Biasakan diri untuk bisa bersikap tenang saat terjadi situasi-situasi yang menegangkan. Ketika kaget, cobalah untuk tetap tenang dengan cara tarik napas panjang atau nyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan.
Making rule of game. Janji pada diri sendiri untuk tidak latah saat sedang kaget, antara lain dengan menghukum diri sendiri setiap kali latah.
Help me, Guys. Teman-teman mungkin tidak sadar betapa lelahnya menjadi seorang yang latah. Panik berlebihan, selalu terkaget-kaget, dan akhirnya sering jadi bahan olokan. Kalau teman-teman mau sedikit menahan diri agar tidak mengejek atau mengerjai kita yang latah, maka usaha untuk sembuh dari latah pasti bisa berhasil”.
“Terapi Behavioristik.
Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku kearah cara-cara yang lebih adaptaif. Pendekatan ini, telah memberikan sumbangan-sumbangan yang berarti, baik pada bidang-bidang klinis maupun pendidikan”.
Dari solusi cara mengatasi gangguan berbiara ( latah ) maka dapat disimpulkan bahwa latah dapat ditangani dengan berbagai cara agar latah pada seseorang dapat hilang. Pertama si penderita latah diberikan pengobatan hipnoterapi ( penderita diberikan pengaruh atau arahan agar dapat mengontrol ucapat ataupun perilakunya ketika terkejut atau dikejutkan). Kedua si penderita gangguan berbicara ( latah ) melakukan pendekatan diri dan lingkungan, pendekatan ini dilakukan dengan tiga cara yaitu : (1) si penderita harus membiasakan diri dengan hal-hal yang dapat membuat dirinya terkejut. (2) si penderita harus berjanji pada dirinya sendiri jika ia latah, maka ia akan memberikan hyukuman kepada dirinya sendiri karena telah latah. (3) orang-orang yang ada di sekitar si penderita latah jangan mengejutkan si penderita latah dan orang-orang yang ada di sekitar si penderita latah ketika si penderita latah terkejut jangan mengolok-olokkan si penderita latah agar kebiasaan latah si penderita dapat berkurang atau bahkan hilang. Ketiga dengan terapi behavioristik yaitu dengan terapi perubahan tingkah laku, yang awalnya si penderita latah ketika terkejut atau dikejutkan akan melakukan atau mengucapkan sesuatu secara spontan, dengan adanya terapi ini maka di penderita latah dapat mengubah tingkah lakunya ketika terjekut atau dikejutkan kea rah yang lebih baik lagi dan si penderita dapat mengontrol tingkah lakunya.
Sumber :
Prihartono, Wawan. ( 2017 ). Identifikasi tuturan latah : pendekatan fonetik akustik. Jurnal Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa, ( Vol. 8 No.2 )
Pamungkas, Sri. ( 2017 ). Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah. Jurnal Program Doktor Linguistik, Universitas Sebelas Maret, ( Vol. 17 No 2 )
Fatmawati, Putri. ( 2018 ). Gangguan Berbahasa Jenis Psikogenetik Latah. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, ( Vol. 5 No 1 )
Nama : Dwi Rahmadini
Nim : A1D117004
E-mail : dwirahmadini41@gmail.com
Pengantar ( Latah )
Selama ini gangguan berbicara sudah menjadi perhatian khusus kajian berbagai bidang ilmu, seperti ilmu bahasa, psikologi, maupun kedokteran. Studi yang memfokuskan objek kajiannya terhadap gangguan bahasa dan bicara disebut Speech Language Pathology. Objek kajian gangguan berbicara yang menjadi perhatian studi ini meliputi, gangguan suara, gangguan artikulasi, dan gangguan kefasihan. Pada gangguan kefasihan berbicara (fluency disorder), biasanya penderita mengalami kegagapan, pengulangan kata-kata, latah, atau memperpanjang bunyi silabel, atau kata tertentu. Gangguan kefasihan umum terjadi pada anak-anak, tetapi seiring bertambahnya usia dan keterampilan berbahasa, gangguan kefasihan tersebut bisa hilang. Namun demikian, gangguan tersebut bisa saja bertahan hingga dewasa karena tidak ada penanganan dan terapi yang memadai sehingga dapat menghambat proses interaksi sosialnya.
“Berbicara latah merupakan salah satu gangguan kefasihan berbicara psikogenik. Chaer (2009:152:23) mengatakan bahwa gangguan berbicara psikogenik adalah variasi cara berbicara yang normal, yang merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental”. Modalitas mental yang terungkap oleh cara berbicara sebagian besar ditentukan oleh nada, intonasi, dan intensitas suara, lafal, dan pilihan kata. Ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara. “Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2003), latah berarti:
(1) Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain.
(2) Berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai.
(3) Meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.
(4) Mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, jorok, berkenaan dengan kelamin”.
“Menurut Dardjowidjojo (2005:154), latah adalah suatu tindak kebahasaan saat seseorang, waktu terkejut atau dikejutkan, mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dia katakana”.
“Latah merupakan fenomena psikologis yang muncul karena masyarakat Asia Tenggara, sebagai negara terjajah (colonized) dan terisolasi (isolated) mengalami trauma dan keterkejutan tatkala bertemu dengan dunia Barat yang baru, asing, penuh kebebasan, mengagumkan dan kuat (Kenny 1978; Tseng 2006; Winzeler 1984)”
Dapat disimpulkan bahwa latah merupakan :
Suatu gangguan berbicara, dimana seseorang kesulitan dalam mengungkapkan kata-kata yang ingin dikeluarkan. Kata-kata yang ingin dikeluarkan tersendat atau berhenti di tenggorokan dan sulit untuk mengeliarkan kata-kata.
Latah merupakan suatu perbuatan yang mengikuti apa yang diucapkan oleh seseorang, apa yang dilakukan oleh seseorang. Meniru perbuatan orang lain ini misalnya jika orang lain tersebut meloncat-loncat, maka seseorang yang latah ini juga akan meloncat-loncat menirukan perbuatan orang tersebut. Meniru tuturan atau perkataan orang lain ini misalnya adalah jika seseorang mengatakan kata “ayam”, maka oramg yang latah ini juga akan mengatakan kata “ayam” sampai berulang-ulang kali.
Latah juga diartikan sebagai sakit saraf dimana seseorang yang menderita latah akan menirukan kata-kata atau perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Latah juga diartikan sebagai sebuah penuturan atau ucapan yang menyangkut dengan hal-hal yang negative atau hal-hal yang tidak senonoh, jorok seperti pengucapan alat kelamin.
Latah diartikan sebagai suatu tindakan atau ucapan spontan (tidak dalam keadaan sadar) seseorang ketika seseorang tersebut dikejutkan atau terkejut.
Latah juga diartikan sebagai suatu tindakan yang umumnya dirasakan oleh suatu masyarakat yang pernah terjajah oleh bangsa lain, masyarakat yang terisolasi (terpencil), dan seseorang yang pernah ,memgalami suatu trauma yang diakibatkan oleh suatu kejadian atau peristiwa yang sangat menakutkan bagi orang yang mengalaminya.
Latah disebut dengan Culture Bound Syndrome. Dikatakan demikian karena “penyakit” ini hanya dijumpai pada orang yang tinggal di daerah Asia Tenggara. Belum ada ditemukan orang barat mengalami sebuah gangguan berbicara latah ini.
Latah juga diartikan sebagai suatu tindakan atau ucapan spontan yang dialukan oleh seseorang karena disebabkan oleh suatu bentakan dari orang lain
Pembahasan ( Latah )
Penyebab latah
teori-teori yang mengemukakan penyebab seseorang mengalami gangguan bebicara ( latah ) adalah:
Teori pemberontakan
“Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu”.
Latah terjadi karena adanya rasa berontak dari dalam diri seseorang, dimana ketika seseorang yang menderita gangguan berbicara ( latah ) dikejutkan atau terkejut si penderita tidak dapat menmgontrol ucapan yang ke luar dari dalam dirinya, baik itu kata-kata negative tanpa si penderita merasa bersalah terhadap apa yang telah diucapkannya.
Teori Kecemasan
“Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga”.
Latah terjadi karena adanya rasa cemas yang dialami oleh si penderita latah yang disebabkan oleh adanya tekanan atau bentakan yang si penderita terima dari orang-orang terdekat baik itu dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan sekitarnya. Karena adanya tekanan atau bentakan yang didapat dari orang-orang di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekitarnya ini, maka si penderita melakukan sebuah pemberontakan dengan menjadikan dirinya sendiri latah.
Teori Pengondisian
“Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut “latah gaul”.
Latah ini disebabkan oleh pengeruh orang-orang yang ada di sekitar si penderita latah. Yang awalnya si penderita tidak mengalami latah, karena ada orang-prang yang latah di sekitar penderita, maka si penderita ini menjadi tertular latah. Latah ini juga digunakan oleh si penderita untuk mencari perhatian orang-orang di sekitar si penderita.
Teori Spontan
“Latah ini adalah jenis latah yang paling parah. Saat terkejut, secara spontan dan tanpa sadar, mereka yang latah akan langsung melaksanakan perintah orang lain tanpa bisa dikendalikan”.
Latah semacam ini apabila di penderita latah dikejutkan atau terkejut maka si penderita latah akan secara spontan atau tanpa sadar akan melakukan atau mengucapkan apa yang dilakukan atau diucapkan oleh orang-oramg yang ada disekitarnya. Jika orang-orang yang ada disekitarnya mengucapkan kata-kata yang berbau negative maka si penderita latah akan secara spontan juga mengucapkan hal-hal negative, begitu juga jika orang-orang disekitar si penderita latah melakukan suatu perbuatan tertentu maka si penderita latah juga akan melakukannya.
Macam-macam gangguan latah yang dialami oleh seseorang antara lain :
Coprolalia : Mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, tabu, atau kotor. Biasanya kata-kata yang keluar pada seseorang yang latah berkenaan dengan alat kelamin atau aktivitas seksual. Coprolalia banyak ditemukan pada perempuan yang pernah memimpikan alat kelamin pria dalam jumlah yang banyak atau berukuran sangat besar.
Echolalia : Tingkah laku meniru atau mengulangi perkataan orang lain atau sesuatu yang didengarnya.
Echopraxia : Tingkah laku meniru perbuatan atau gerakan orang lainyang dilihatnya. Dalam hal ini termasuk pula echomimia (meniru mimik orang lain).
Automatic Obidience : Menuruti secara spontan apa yang diinstruksikan atau diperintahkan orang lain untuk dilakukan.
Ciri-Ciri latah menurut Soenjono Dardjowidjojo ( 2003 : 154 ) :
Latah hanya terdapat di Asia Tenggara
Pelakunya hamper semua wanita
Kata-kata yang dikeluarkan umumnya betkaitan dengan seks atau alat kelamin pria atau jantan
Kalau terkejut berupa kata, maka si latah bisa menguang kata itu saja.
Menurut cirri-ciri latah ydi atas dapat disimpulkan bahwa umumnya latah terjadi pada Negara yang pernah dijajah oleh bangsa lain. Latah sebagian besar hanya dialami oleh kaum wanita, tetapi juga ada kaum pria. Kata-kata yang sering diucapkan oleh si penderita latah ini umumnya adalah kata-kata yang berkaitan dengan organ kelamin pria yang disebabkan sebelumnya si penderita mengalami sebuah mimpi seks. Si penderita latah umumnya mengucapkan kata-kata terakhir yang didengarnya sebelum si penderita terkejut.
Solusi Atau Cara Menangani Latah
Ada beberapa tindakan yang dapat diaplikasikan kepada para penderita latah sehingga mereka dapat lepas dari sindrom latah ini, tindakan-tindakan tersebut antara lain adalah :
“Hipnoterapi.
Dalam hipnoterapi kita bisa langsung menjangkau sumber kebiasaan latah, yaitu pikiran bawah sadar. Dengan demikian kita bisa merubah perilaku kebiasaan latah yang tertanam di pikiran bawah sadar. Selain itu, dengan hipnoterapi penderita latah diberi sugesti agar tetap tenang ketika mengalami peristiwa yang mengagetkan.”
“Pendekatan Diri dan Lingkungan.
Calm Pada dasarnya orang yang mudah latah itu mudah sekali panik dan kaget. Biasakan diri untuk bisa bersikap tenang saat terjadi situasi-situasi yang menegangkan. Ketika kaget, cobalah untuk tetap tenang dengan cara tarik napas panjang atau nyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan.
Making rule of game. Janji pada diri sendiri untuk tidak latah saat sedang kaget, antara lain dengan menghukum diri sendiri setiap kali latah.
Help me, Guys. Teman-teman mungkin tidak sadar betapa lelahnya menjadi seorang yang latah. Panik berlebihan, selalu terkaget-kaget, dan akhirnya sering jadi bahan olokan. Kalau teman-teman mau sedikit menahan diri agar tidak mengejek atau mengerjai kita yang latah, maka usaha untuk sembuh dari latah pasti bisa berhasil”.
“Terapi Behavioristik.
Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku kearah cara-cara yang lebih adaptaif. Pendekatan ini, telah memberikan sumbangan-sumbangan yang berarti, baik pada bidang-bidang klinis maupun pendidikan”.
Dari solusi cara mengatasi gangguan berbiara ( latah ) maka dapat disimpulkan bahwa latah dapat ditangani dengan berbagai cara agar latah pada seseorang dapat hilang. Pertama si penderita latah diberikan pengobatan hipnoterapi ( penderita diberikan pengaruh atau arahan agar dapat mengontrol ucapat ataupun perilakunya ketika terkejut atau dikejutkan). Kedua si penderita gangguan berbicara ( latah ) melakukan pendekatan diri dan lingkungan, pendekatan ini dilakukan dengan tiga cara yaitu : (1) si penderita harus membiasakan diri dengan hal-hal yang dapat membuat dirinya terkejut. (2) si penderita harus berjanji pada dirinya sendiri jika ia latah, maka ia akan memberikan hyukuman kepada dirinya sendiri karena telah latah. (3) orang-orang yang ada di sekitar si penderita latah jangan mengejutkan si penderita latah dan orang-orang yang ada di sekitar si penderita latah ketika si penderita latah terkejut jangan mengolok-olokkan si penderita latah agar kebiasaan latah si penderita dapat berkurang atau bahkan hilang. Ketiga dengan terapi behavioristik yaitu dengan terapi perubahan tingkah laku, yang awalnya si penderita latah ketika terkejut atau dikejutkan akan melakukan atau mengucapkan sesuatu secara spontan, dengan adanya terapi ini maka di penderita latah dapat mengubah tingkah lakunya ketika terjekut atau dikejutkan kea rah yang lebih baik lagi dan si penderita dapat mengontrol tingkah lakunya.
Sumber :
Prihartono, Wawan. ( 2017 ). Identifikasi tuturan latah : pendekatan fonetik akustik. Jurnal Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa, ( Vol. 8 No.2 )
Pamungkas, Sri. ( 2017 ). Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah. Jurnal Program Doktor Linguistik, Universitas Sebelas Maret, ( Vol. 17 No 2 )
Fatmawati, Putri. ( 2018 ). Gangguan Berbahasa Jenis Psikogenetik Latah. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, ( Vol. 5 No 1 )
Nama : Dwi Rahmadini
Nim : A1D117004
E-mail : dwirahmadini41@gmail.com
Komentar
Posting Komentar